Kamis, 23 April 2009

Materi Kemuhammadiyahan 1

Materi Kemuhammadiyahan 1

Bismillahirrahmanirrahim

Bahwa keberhasilan perjuangan Muhammadiyah yang berjalan hampir satu abad pada hakikatnya merupakan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri oleh seluruh warga Persyarikatan. Dengan modal keikhlasan dan kerja keras segenap anggota disertai dukungan masyarakat luas Muhammadiyah tidak kenal lelah melaksanakan misi da’wah dan tajdid dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Gerakan kemajuan tersebut ditunjukkan dalam melakukan pembaruan pemahaman Islam, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa di negeri ini.Namun disadari pula masih terdapat sejumlah masalah atau tantangan yang harus dihadapi dan memerlukan langkah-langkah strategis dalam usianya yang cukup tua itu. Perjuangan Muhammadiyah yang diwarnai dinamika pasang-surut itu tidak lain untuk mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya serta dalam rangka menyebarkan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang terhampar luas ini.
Karena itu dengan senantiasa mengharapkan ridha dan pertolongan Allah SWT Muhammadiyah dalam usia dan kiprahnya jelang satu abad ini menyampaikan pernyataan pikiran (zhawãhir al-afkãr/statement of mind) sebagai berikut:

A. Komitmen Gerakan

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid, berasas Islam, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sesuai jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sebagai wujud ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin. Misi kerisalahan dan kerahmatan yang diemban Muhammadiyah tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai kiprahnya dalam pengembangan amal usaha, program, dan kegiatan yang sebesar-besarnya membawa pada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad telah banyak mendirikan taman kana-kanak, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu, usaha ekonomi, penerbitan, dan amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga membangun masjid, mushalla, melakukan langkah-langkah da’wah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok Tanah Air. Muhammadiyah bahkan tak pernah berhenti melakukan peran-peran kebangsaan dan peran-peran kemanusiaannya dalam dinamika nasional dan global. Kiprah Muhammadiyah tersebut menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa misi gerakan Islam yang diembannya bersifat amaliah untuk kemajuan dan pencerahan yang membawa pada kemaslahatan masyarakat yang seluas-luasnya. Peran kesejarahan yang dilakukan Muhammadiyah tersebut berlangsung dalam dinamika yang beragam. Pada masa penjajahan sejak berdirinya tahun 1330 H/1912 M., Muhammadiyah mengalami cengkeraman politik kolonial sebagaimana halnya dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia saat itu, tetapi Muhammadiyah tetap berbuat tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pada masa awal dan era Orde Lama Muhammadiyah mengalami berbagai situasi sulit akibat konflik politik nasional yang kompleks, namun Muhammadiyah tetap berkiprah dalam da’wah dan kegiatan kemasyarakatan. Pada era Orde Baru di bawah rezim kekuasaan yang melakukan depolitisasi (pengebirian politik), deideologisasi (pengebirian ideologi), dan kebijakan politik yang otoriter, Muhammadiyah juga terus berjuang mengembangkan amal usaha dan aktivitas da’wah Islam. Sedangkan pada masa reformasi, Muhammadiyah memanfaatkan peluang kondisi nasional yang terbuka itu dengan melakukan revitalisasi dan peningkatan kualitas amal usaha serta aktivitas da’wahnya. Melalui kiprahnya dalam sejarah yang panjang itu Muhammadiyah telah diterima oleh masyarakat luas baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional sebagai salah satu pilar kekuatan Islam yang memberi sumbangan berharga bagi kemajuan peradaban umat manusia.
Kiprah dan langkah Muhammadiyah yang penuh dinamika itu masih dirasakan belum mencapai puncak keberhasilan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya, sehingga Muhammadiyah semakin dituntut untuk meneguhkan dan merevitalisasi gerakannya ke seluruh lapangan kehidupan. Karena itu Muhammadiyah akan melaksanakan tajdid (pembaruan) dalam gerakannya sehingga di era kehidupan modern abad ke-21 yang kompleks ini sesuai dengan Keyakinan dan Kepribadiannya dapat tampil sebagai pilar kekuatan gerakan pencerahan peradaban di berbagai lingkungan kehidupan.

B. Pandangan Keagamaan

Muhammadiyah dalam melakukan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan dilandasi oleh keyakinan dan pemahaman keagamaan bahwa Islam sebagai ajaran yang membawa misi kebenaran Ilahiah harus didakwahkan sehingga menjadi rahmatan lil-‘alamin di muka bumi ini. Bahwa Islam sebagai Wahyu Allah yang dibawa para Rasul hingga Rasul akhir zaman Muhammad Saw., adalah ajaran yang mengandung hidayah, penyerahan diri, rahmat, kemaslahatan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Keyakinan dan paham Islam yang fundamental itu diaktualisasikan oleh Muhammadiyah dalam bentuk gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia.
Misi da’wah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal Persyarikatan ini sejak didirikannya yang dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran 104, yang artinya: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Kewajiban dan panggilan da’wah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan Khaira Ummah sekaligus dalam membangun masyarakat Islam yang ideal seperti itu sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 110, yang artinya: ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”. Dengan merujuk pada Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan multiaspek itu melalui da’wah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), sehingga umat manusia memperoleh keberuntungan lahir dan batin dalam kehidupan ini. Da’wah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan). Tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi), yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan Islam yang demikian Kyai Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam akidah, ibadah, dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaruan dalam amaliah mu’amalat dunyawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan. Semangat tajdid Muhammadiyah tersebut didorong antara lain oleh Sabda Nabi Muhammad s.a.w., yang artinya: ”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Karena itu melalui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang tetap kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.
Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak masyarakat tengahan (ummatan wasatha) yang berkemajuan baik dalam wujud sistem nilai sosial-budaya, sistem sosial, dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, rasionalitas dan spiritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan, masyarakat Islam semacam itu selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaingan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat ”berjuang menghadapi tantangan” (al-jihad li al-muwajjahat) lebih dari sekadar ”berjuang melawan musuh” (al-jihad li al-mu’aradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah). Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhada ‘ala al-nas di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak ”madaniyah” tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai-nilai ruhani (spiritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilai-nilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normatif berperilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasi-relasi yang menjunjungtinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasad fi al-ardh), kedhaliman, dan hal-hal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan.

C. Pandangan tentang Kehidupan

Muhammadiyah memandang bahwa era kehidupan umat manusia saat ini berada dalam suasana penuh paradoks. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luar biasa dibarengi dengan berbagai dampak buruk seperti lingkungan hidup yang tercemar (polusi) dan mengalami eksploitasi besar-besaran yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, lebih jauh lagi melahirkan sekularisasi kehidupan yang menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan-keseimbangan hidup yang bersifat religius. Kemajuan kehidupan modern yang melahirkan antitesis post-modern juga diwarnai oleh kecenderungan yang bersifat serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan juga telah melahirkan corak kehidupan yang lebih egaliter dan berkeadilan secara meluas, tetapi juga membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, yang jika tanpa bingkai moral dan spiritual yang kokoh dapat merusak hubungan-hubungan manusia yang harmoni.
Dalam memasuki babak baru globalisasi, selain melahirkan pola hubungan positif antarbangsa dan antarnegara yang serba melintasi, pada saat yang sama melahirkan hal-hal negatif dalam kehidupan umat manusia sedunia. Di era global ini masyarakat memiliki kecenderungan penghambaan terhadap egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasiyyah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi juga telah mendorong ekstrimisme baru berupa lahirnya fanatisma primordial agama, etnik, dan kedaerahan yang bersifat lokal sehingga membangun sekat-sekat baru dalam kehidupan. Perkembangan global pasca perang-dingin (keruntuhan Komunisme) juga ditandai dengan pesatnya pengaruh Neo-liberalisme yang semakin mengokohkan dominasi Kapitalisme yang lebih memihak kekuatan-kekuatan berjuasi sekaligus kian meminggirkan kelompok-kelompok masyarakat yang lemah (dhu’afã) dan tertindas (mustadh’afin), sehingga melahirkan ketidak-adilan global yang baru. Namun globalisasi dan alam kehidupan modern yang serba maju saat ini juga dapat dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan Islam seperti Muhammadiyah untuk memperluas solidaritas umat manusia sejagad baik sesama umat Islam (ukhuwah islamiyyah) maupun dengan kelompok lain (‘alãqah insãniyyah), yang lebih manusiawi dan berkeadaban tinggi.
Karena itu Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat, bangsa, dan dunia untuk semakin berperan aktif dalam melakukan ikhtiar-ikhtiar pencerahan di berbagai lapangan dan lini kehidupan sehingga kebudayaan umat manusia di alaf baru ini menuju pada peradaban yang berkemajuan sekaligus bermoral tinggi.

D. Tanggungjawab Kebangsaan dan Kemanusiaan

Muhammadiyah memandang bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah berada dalam suasana transisi yang penuh pertaruhan. Bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan krisis multiwajah akan menentukan nasib perjalanan bangsa ke depan. Masalah korupsi, kerusakan moral dan spiritual, pragmatisme perilaku politik, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, separatisme, kerusakan lingkungan, dan masalah-masalah nasional lainnya jika tidak mampu diselesaikan secara sungguh-sungguh, sistematik, dan fundamental akan semakin memperparah krisis nasional. Wabah masalah tersebut menjadi beban nasional yang semakin berat dengan timbulnya berbagai musibah dan bencana nasional seperti terjadi di Aceh, Nias, dan daerah-daerah lain yang memperlemah dayatahan bangsa. Krisis dan masalah tersebut bahkan akan semakin membebani tubuh bangsa ini jika dipertautkan dengan kondisi sumberdaya manusia, ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur nasional maupun lokal yang jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai bangsa lain.
Bangsa Indonesia juga tengah berada dalam pertaruhan ketika berhadapan dengan perkembangan dunia yang berada dalam cengkeraman globalisasi, politik global, dan berbagai tarik-menarik kepentingan internasional yang diwarnai hegemoni dan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan. Indonesia bahkan menjadi lahan paling subur dan tempat pembuangan limbah sangat mudah dari globalisasi dan pasar bebas yang berwatak neo-liberal. Jika tidak memiliki daya adaptasi, filter, dan integritas kepribadian yang kookoh maka bangsa ini juga akan terombang-ambing dalam hegemoni dan liberalisasi politik global yang penuh konflik dan kepentingan. Pada saat yang sama bangsa ini juga tengah berhadapan dengan relasi-relasi baru yang dibawa oleh multikulturalisme yang memerlukan orientasi kebudayaan dan tatanan sosial baru yang kokoh.
Dalam menghadapi masalah dan tantangan internal maupun eksternal itu bangsa Indonesia memerlukan mobilisasi seluruh potensi dan kemampuan baik berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, modal sosial-kultural, dan berbagai dayadukung nasional yang kuat dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi yang sangat penuh pertaruhan dan sarat tantangan tersebut maka sangat diperlukan kepemimpinan yang handal dan visioner baik yang didukung kemampuan masyarakat yang mandiri baik di ingkat nasional maupun lokal agar berbagai masalah, tantangn, dan potensi bangsa ini mampu dihadapi serta dikelola dengan sebaik-baiknya.
Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim juga tidak lepas dari perkembangan yang dihadapi saudara-saudaranya di dunia Islam. Mayoritas dunia Islam selain dililit oleh masalah-masalah nasional masing-masing, pada saat yang sama berada dalam dominasi dan hegemoni politik Barat yang banyak merugikan kepentingan-kepentingan dunia Islam. Sementara antar dunia Islam sendiri selain tidak terdapat persatuan yang kokoh, juga masih diwarnai oleh persaingan dan konflik yang sulit dipertemukan, sehingga semakin memperlemah posisi umat Islam dalam percaturan internasional. Kendati begitu, masih terdapat secercah harapan ketika Islam mulai berkembang di neger-negeri Barat dan terjadi perkembangan alam pikiran baru yang membawa misi perdamaian, kemajuan, dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

E. Agenda dan Langkah Ke Depan

Dalam menghadapi masalah bangsa, umat Islam, dan umat manusia sedunia yang bersifat kompleks dan krusial sebagaimana digambarkan itu Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan nasional akan terus memainkan peranan sosial-keagamaannya sebagaimana selama ini dilakukan dalam perjalanan sejarahnya. Usia jelang satu abad telah menempa kematangan Muhammadiyah untuk tidak kenal lelah dalam berkiprah menjalankan misi da’wah dan tajdid untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Jika selama ini Muhammadiyah telah menorehkan kepeloporan dalam pemurnian dan pembaruan pemikrian Islam, pengembangan pendidikan Islam, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan, serta dalam pembinaan kecerdasan dan kemajuan masyarakat; maka pada usianya jelang satu abad ini Muhammadiyah selain melakukan revitalisasi gerakannya juga berikhtiar untuk menjalankan peran-peran baru yang dipandang lebih baik dan lebih bermasalahat bagi kemajuan peradaban.
Peran-peran baru sebagai wujud aktualisasi gerakan da’wah dan tajdid yang dapat dikembangkan Muhammadiyah antara lain dalam menjalankan peran politik kebangsaan guna mewujudkan reformasi nasional dan mengawal perjalanan bangsa tanpa terjebak pada politik-praktik (politik kepartaian) yang bersifat jangka pendek dan sarat konflik kepentingan. Dengan bingkai Khittah Ujung Pandang tahun 1971 dan Khittah Denpasar tahun 2002, Muhammadiyah secara proaktif menjalankan peran dalam pemberanrasan korupsi, penegakan supremasi hukum, memasyarakatkan etika berpolitik, pengembangan sumberdaya manusia, penyelamatan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, memperkokoh integrasi nasional, membangun karakter dan moral bangsa, serta peran-peran kebangsaan lainnya yang bersifat pencerahan. Muhammadiyah juga akan terus menjalankan peran dan langkah-langkah sistematik dalam mengembangkan kehidupan masyarakat madani (civil society) melalui aksi-aksi da’wah kultural yang mengrah pada pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis, otonom, berkeadilan, dan berakhlak mulia.
Dalam pergaulan internasional dan dunia Islam, Muhammadiyah juga terpanggil untuk menjalankan peran global dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, adil, maju, dan berkeadaban. Muhammadiyah menyadari pengaruh kuat globalisasi dan ekspansi neo-liberal yang sangat mencengkeram perkembangan masyarakat dunia saat ini. Dalam perkembangan dunia yang sarat permasalahan dan tantangan yang kompleks di abad ke-21 itu Muhammadiyah dituntut untuk terus aktif memainkan peran kerisalahannya agar umat manusia sedunia tidak terseret pada kehancuran oleh keganasan globalisasi dan neo-liberal, pada saat yang sama dapat diarahkan menuju pada keselamatan hidup yang lebih hakiki serta memiliki peradaban yang lebih maju dan berperadaban mulia.
Khusus bagi umat Islam baik di tingkat lokal, naional, maupun global Muhammadiyah dituntut untuk terus maminkan peran da’wah dan tajdid secara lebih baik sehingga kaum muslimin menjadi kekuatan penting dan menentukan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban di era modern yang penuh tantangan ini. Era kebangkitan Islam harus terus digerakkan ke arah kemajuan secara signifikan dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam. Umat Islam harus tumbuh menjadi khaira ummah yang memiliki martabat tinggi di hadapan komunitas masyarakat lain di tingkat lokal, nasional, dan global. Di tengah dinamika umat Islam yang semacam itu Muhammadiyah harus tetap istiqamah dan terus melakukan pembaruan dalam menjalankan dan mewujudkan misi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang tercinta ini.
Demikian Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad sebagai ungkapan keyakinan, komitmen, pemikiran, sikap, dan ikhtiar mengenai kehadiran dirinya sebagai Gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid dalam memasuki usianya hampir seratus tahun. Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad tersebut menjadi bingkai dan arah bagi segenap anggota dan pimpinan Persyarikatan baik dalam menghadapi perkembangan kehidupan maupun dalam melaksanakan usaha-usaha menuju tercapainya tujuan Muhammadiyah yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Akhirnya, dengan senantiasa memohon ridha dan karunia Allah SWT., semoga kiprah Muhammadiyah di pentas sejarah ini membawa kemasalahatn bagi hidup umat manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Nashr min Allah wa fath qarib

dikutip dari
Diposkan oleh UUT WEB di 00:18
Sabtu, 2009 Februari 28
http://fakhruut.blogspot.com/2009/02/materi-kemuhammadiyahan-1.html

Selasa, 21 April 2009

Fatwa KH.A. Dahlan

'Kita, manusia ini, hidup didunia hanya sekali, untuk bertaruh; sesudah mati, akan mendapatkan kebahagiaankah atau kesengsaraankah?'

'Kebanyakan diantara para manusia berwatak angkuh, dan takabur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri'

'Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah.
Sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah ditrerima, baik itu dari sudut keyakinan atau i'tiqad, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga.
Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar'

Kamis, 05 Maret 2009

Din Syamsudin Tawarkan 10 Watak Budaya Merdeka

Din Syamsudin Tawarkan 10 Watak Budaya Merdeka

BANDARLAMPUNG -- Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, menawarkan sepuluh watak budaya merdeka yang perlu menjadi budaya baru Bangsa Indonesia."Kita perlu bersama-sama bangkit membangun dengan paradigma pertumbuhan berkelanjutan yang bermakna bertumpu pada tiga fondasi," kata dia pada sidang kedua Tanwir Muahammadiyah di Bandarlampung, Kamis.
Pertama, lanjut dia, membangun sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan sumber daya alam dengan sebaik-baiknya.Kemudian, menciptakan lapangan pekerjaan yang seluasnya, khususnya di sektor pertanian dan industri padat karya.Ketiga, kebijakan politik yang berpihak kepada mayoritas rakyat.
Ia menjelaskan, paradigma tersebut mengandung arti, yakni membangun satu sisi tetapi tidak menjebol sisi lain.
"Kita tidak menolak kerjasama luar negeri, tapi tidak melupakan kedaulatan negeri," katanya.
Selanjutnya, dalam bidang ekonomi umpamanya, memerlukan pertumbuhan tetapi tanpa mengabaikan pemerataan dan keadilan sosial."Inilah paradigma jalan tengah yang ditawarkan Islam, sebagai 'agama tengahan', dan diserukan untuk memberi kesaksian kepada dunia yakni dengan menampilkan bukti-bukti kemajuan dan peradaban," kata dia.
Jalan tengah tersebut, lanjutnya, perlu menjadi bagian dari kesadaran umat Islam dan Bangsa Indonesia, serta perlu mengkristal menjadi watak bangsa yakni dasawatak budaya merdeka.Dasawatak budaya merdeka gagasan Din Syamsudin itu yakni, merdeka dari kebiasaan mementingkan diri sendiri atau kelompok dengan mengedepankan kepentingan publik dan kepentingan bangsa yang lebih luas.
Kemudian, merdeka dari tirani perasaan benar sendiri menjadi anak bangsa yang toleran dan menghargai perbedaan.
Merdeka dari sifat-sifat feodalisme dan primordialisme menjadi egalitarian yang menempatkan sesama anak bangsa dalam posisi dan perlakuan yang sama.Selanjutnya, merdeka dari budaya yang hanya mencela belaka dengan membangun budaya menghargai upaya dan hasil karya orang lain; merdeka dari budaya nepotisme dengan mengedepankan budaya meritokrasi atau prestasi.
Selanjutnya adalah merdeka dari budaya kekerasan menjadi bangsa yang beradab dalam menyelesaikan setiap persoalan.Merdeka dari kebiasaan korupsi dan mulai bekerja membangun prestasi dan menuai karya dari hasil keringat sendiri.
Selain itu, merdeka dari ketergantungan dari bangsa lain dan mulai membangun kemandirian nasional, melalui kerjasama internasional yang adil dan saling menguntungkan.Kemudian, merdeka dari rasa rendah diri dalam pergaulan antarbangsa dan menjadi bangsa yang berdiri sama tinggi dengan bangsa lain di dunia, serta merdeka dari kecintaan pada dunia fana belaka dan mulai menyeimbangkan kehidupan dengan menjalankan ajaran agama yang baik.ant/kpo

By Republika Newsroom
Kamis, 05 Maret 2009 pukul 21:39:00
Font Size A A A
EMAIL
PRINT
Facebook
http://www.republika.co.id/berita/35671/Din_Syamsudin_Tawarkan_10_Watak_Budaya_Merdeka

Mahasiswa: 6 Visi Reformasi Dikhianati

Mahasiswa: 6 Visi Reformasi Dikhianati
Kamis, 22 Mei 2003

JAKARTA -- Bertepatan dengan lima tahun reformasi (21 Mei 1998-21 Mei 2003), mahasiswa turun ke jalan. Mereka merasa enam visi reformasi telah dikhianati oleh jajaran eksekutif dan legislatif.

Di Jakarta, aksi diarahkan ke depan Istana Negara dan gedung DPR/MPR Senayan. Aksi di depan istana dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan HMI Cabang Bogor.

Aksi lebih banyak terjadi di depan gedung DPR/MPR. Mereka terdiri dari berbagai elemen mahasiswa, termasuk Komite Rakyat Indonesia Bersatu (KRIB) Bandung yang melakukan long-march ke Jakarta. Rencananya mereka akan menduduki gedung tersebut.

Mahasiswa menilai bahwa terhitung sejak lengsernya Orde Baru pada 21 Mei 1998, rakyat belum merasakan perubahan berarti. KKN masih menjamur, penegakan hukum lemah, proses pemulihan ekonomi setengah hati, banyaknya konflik di daerah, dan beban utang rakyat makin berat.

Dalam kondisi seperti ini, menurut mahasiswa, kepemimpinan nasional tidak menunjukkan upaya perbaikan yang signifikan. Sebaliknya, ada kecenderungan jajaran eksekutif dan legislatif mencederai amanat reformasi.
IMM menuntut Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wapres Hamzah Haz melaksanakan amanat reformasi dalam waktu dekat.

Jika tidak, ''maka tidak ada jalan lain bagi Mega-Hamzah memperpanjang kekuasaannya.'' Ancaman ini pun dituangkan dalam spanduk yang berbunyi, antara lain, ''Serahkan Pemerintahan Kepada Kaum Muda'' dan ''Rakyat Tidak Mau Dibodohi Lagi''.

Di gerbang DPR/MPR ratusan mahasiswa mengusung sebuah karangan bunga tanda berduka cita atas matinya reformasi di negeri ini. Karangan bunga tersebut diletakkan tepat di pintu gerbang gedung wakil rakyat tersebut. Dalam orasinya mereka menyatakan akan memboikot pesta demokrasi rakyat (pemilihan umum) pada 2004.
]
Mahasiswa berusaha memasuki halaman gedung tersebut, tetapi dihadang aparat kepolisian. Mereka mencoba mendorong gerbang. Aksi mereka disambut semprotan air dari water canon yang sudah disiapkan.
Sekira pukul 19.10 aksi mahasiswa itu dibubarkan. Massa kocar-kacir.

Sebanyak delapan orang ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya. Satu di antaranya adalah sopir kendaraan yang membawa rombongan mahasiswa.
Kabidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Prasetyo, menyatakan alasan pembubaran itu karena mahasiswa telah melampaui batas waktu yang ditetapkan undang-undang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.

Selain di Jakarta, aksi unjuk rasa digelar di beberapa kota besar di Indonesia. Ada yang berlangsung damai, tapi ada pula yang berakhir dengan kekerasan seperti yang terjadi di Makassar. lhk/osa/dam/run

KH Ahmad Dahlan memberikan analisa,

KH Ahmad Dahlan memberikan analisa,

apa sebab manusis tidak mau menerima kebenaran, atau apa sebab mereka sesat. Dia berpendapat sebab-sebabnya adalah :

1. Bodoh. Ini yang paling banyak. Mereka belum mengetahui atau mengerti ajaran yang benar
2. Belum kedatangan ajaran Islam
3. Tidak cocok dengan orang yang membawa kebenaran, apalagi orang itu musuh
4. Mereka telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang dicintai lebih dahulu. Kebanyakan manusia sudah mempunyai kepercayaan lebih dahulu, kemudian mencari dalil-dalil yang memperkuat atau yang cocok dengan apa yang menjadi kepercayaannya. Jarang sekali orang mencari ilmu/dalil-dalil, mencari mana yang benar untuk dipegang dan dikerjakan
5. Mereka takut berpisah dengan keluarganya, kawan-kawannya, takut kehilangan apa yang menjadi kesenangannya (harta, benda, kedudukan) dan karena takut menderita kesusahan dan dirasa berat
6. Tidak berani menjalankan barang (sesuatu) yang benar karena takut sakit dan mati

Bermacam-macam corak ragamnya mereka mengajukan pertanyaan tentang soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian : ‘harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?

Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama meskipun harus menyumbangkan jiwa (nyawa) sekalipun. Jiwamu (nyawamu) tak usah kamu tawarkan, kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tetapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.

Gerakan Budaya Amien Rais

Gerakan Budaya Amien Rais

Sebagai warga Muhammadiyah yang baik, sebagai orang Islam yang ramah, sebagai bagian dari orang Jawa dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, M Amien Rais termasuk yang amat peduli dengan kehidupan budaya. Oleh karena itu, ia terus melakukan gerakan budaya yang sangat siginifikan dengan denyut budaya Indonesia yang kita cita-citakan. Mungkin sesuai dengan pemikiran Pak Kuntowijoyo, mungkin juga tidak, yang jelas M Amien Rais awalnya melakukan gerakan budaya itu sebagai pribadi, sebagai individu, bukan sebagai orang lembaga.

Salah satu ‘ijtihad’ dari Pak Kuntowijoyo yang pernah saya baca adalah bahwa gerakan budaya atau prestasi budaya sebaiknya dilakukan pada tingkat individu, tak usah dilembagakan. Lembaga, atau organisasi (persyarikatan) hanya diposisikan sebagai lembaga penyedia fasilitas saja. Mungkin Pak Amien Rais tidak pernah berfikir rumit soal strategi lembaga atau individu budaya itu. Yang penting, gerakan budaya harus ada, dan itu sekarang sangat dibutuhkan.

Sewaktu awal-awal periode penulis menjadi wartawan dan sering ‘diuji’ oleh Pak Amien Rais waktu mau wawancara (dengan terus mengubah-ubah jadwal wawancara sampai empat kali, tetapi penulis tetap ‘keras kepala’ mau wawancara) pernah dalam mobil penulis mengamati kaset-kaset kegemaran Pak Amien. Ternyata penyanyi beraliran ‘beat’ seperti Nat King Cole menjadi kegemarannya. Waktu ditanya, jawabnya sederhana, ia merasa cocok dengan lagu-lagu yang pada zaman ia muda dulu ngetop sekaligus ngehit itu. Pada zaman itu Elvis Presley si raja musik rock’n roll sudah muncul tapi pak Amien merasa lebih dapat menikmati Nat King Cole. Mungkin karena lirik-liriknya masih dapat dinikmati.

Ternyata Pak Amien masih memiliki simpanan yang lain. Ia penggemar seni humor tinggi gaya Yogya yang dipelopori Basiyo dan musik langgam Jawa yang telah diperkaya dan mengalami ‘modernisasi’ berkat tangan dingin ahli karawitan dan dalang Ki Nartosabdo. Simpanan yang lain yang tak kalah signifikan adalah, pada zaman Pak Amien sekolah SD dan SMP ternyata Muhammadiyah Surakarta sangat welcome dengan seni tradisional. Ketika diadakan lomba tembang Jawa Pak Amien sering ikut meski belum pernah menang. Lain dengan Gesang yang kader Muhammadiyah, yang kemudian menekuni keroncong sampai membuat namanya mendunia berkat Bengawan Solo karyanya. Sentuhan pendidikan seni di sekolah Muhammadiyah mampu mengubah Gesang menjadi pencipta karya musik berkualitas dan kemudian hari mampu menggerakkan Pak Amien Rais menjadi salah satu penggerak budaya di Indonesia. Memang Solo menyimpan energi budaya yang cukup melimpah yang terus meregenerasi. Banyak jago-jago budaya tingkat nasional dan internasional ternyata berasal dari Solo. Mulai dari Rendra, Sardono W Kusumo, Retno Maruti, Dawam Raharjo, sampai aktivis Teater Gidag-Gidig yang fenomenal. Sedang untuk keroncong dan langgam Jawa, selain Gesang dan Waljinah, Solo juga melahirkan Anjar Ani yang mengarang lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang yang terkenal itu. Masih banyak lagi, termasuk sastrawan Jawa legendaris Any Asmara dan Asmarawan Kho Ping Hoo.

Yang patut dicatat, semua simpanan energi budaya Pak Amien Rais itu kalau dicermati sama sekali tidak mengurangi kualitas beragama beliau yang berfaham Muhammadiyah, juga tidak mengurangi kualitas pemikiran keagamaan dan pemikiran politiknya (sebagai ahli ilmu politik), serta tidak mengurangi kualitas kepemimpinannya. Bahkan energi budaya itu justru membuat Pak Amien semakin lengkap dan semakin kaya dimensi kemanusiaannya.

Penulis yang mendapat kesempatan mengamati secara langsung dan dekat Pak Amien Rais pada saat Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Banda Aceh betul-betul terkejut dan kecele. Sebab semula yang terbayang adalah Pak Amien itu orang keras, tanpa kompromi demi prinsip, terlalu rasional dan menakutkan. Ternyata tidak. Energi budaya yang tersembunyi pada beliau mampu membuatnya arif dalam menentukan tindakan dan langkah-langkahnya.

Dengan santai dan penuh percaya diri Pak Amien Rais merangkul banyak tokoh yang semula dicitrakan sebagai rival dan lawan beratnya. Lewat berbagai pidato berbahasa Inggris dan berbahasa Arab nyaris membuat Pak Amien Rais tak tertandingi. Para pengagumnya terpesona mendengar kefasihan berbicaranya. Dan pada akhir Muktamar ada kata penting yang patut dicatat.

“Seorang pemimpin itu harus mirip tukang kayu yang pintar. Semua kayu harus dapat ia manfaatkan,” demikian katanya ketika menggambarkan bagaimana semua kader dalam persyarikatan harus diberi tempat untuk berpartisipasi, meski ia termasuk kader kecil-kecilan.

Setelah tidak lagi menjadi Ketua PP Muhammadiyah, karena mendapat amanah untuk memimpin partai politik PAN yang kelahirannya merupakan ijtihad bersama dari Tanwir Semarang maka energi budaya Pak Amien rupanya terus bergolak. Justru ketika menjadi ketua partai ini perhatiannya pada denyut budaya Indonesia makin tinggi. Pada tingkat wacana Pak Amien berkali-kali memberi orasi budaya di forum-forum terhormat, termasuk di Taman Ismail Marzuki. Pada tingkat aksi, berbagai seni tradisional disantuni dan diajak untuk tampil kembali, termasuk Pangkur Jengglegnya Basiyo. Sedang seni yang masih kuat pengaruhnya seperti wayang tak lupa digauli.
Dengan demikian, hari-hari ini Pak Amien Rais tampak lebih sering hadir sebagai aktivis budaya ketimbang sebagai politisi. Gerakan budaya yang digulirkan betul-betul terasa dan dirasakan oleh rakyat bawah.

Mustofa W. Hasyim

Deklarasi Muhammadiyah Menyejukkan Bumi Indonesia

Deklarasi Muhammadiyah Menyejukkan Bumi Indonesia

Bencana demi bencana telah melanda negeri ini, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, wabah penyakit, ledakan jasad pengganggu tumbuhan serta semakin menurunnya ketersediaan dan kualitas sumber daya air. Kesemuanya itu merupakan bentuk-bentuk kerusakan sumber daya alam yang telah dimanfaatkan dengan mengabaikan gatra lingkungan hidup.

Muhammadiyah sadar bahwa mengelola lingkungan secara benar dan tepat merupakan amanah yang harus dijalankan manusia sebagai khalifah di bumi, maka Muhammadiyah berikhtiar sesuai kemampuannya ikut secara aktif menata lingkungan untuk menyejukkan bumi berdasarkan azas keseimbangan lingkungan.
Oleh karena itu, pada hari ini, kamis tanggal 13 Dzulqoidah 1426 H/15 Desember 2005 dengan mengucap BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM dimulailah :
“GERAKAN MUHAMMADIYAH MENYEJUKKAN BUMI INDONESIA”

15 Desember 2005,
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ketua Umum
Din Syamsuddin